Kuansing Blogger Community

Kamis, 19 Februari 2009

silat pangean


SILAT PANGEAN
DITINJAU DARI KAJIAN HISTORIS

O
L
E
H
DRS. HAMDAN. MS, MM
Gelar Dt. Paduko Jalelo
Kasubdin. Kebudayaan DKKP 
Kabupaten Kuantan Singing
i

BAB I
 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
  Negara Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau,tentulah memiliki berbagai ragam kebudayaan yang terdapat di berbagai daerah yang masing-masing memiliki kebudayaan tersendiri. Hal ini menyebabkan bangsa Indonesia kaya akan seni dan adat istiadat serta kebudayaan yang merupakan asset yang tidak ternilai harganya bagi penunjang usaha pembangunan diberbagai bidang. 
  Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan, kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha rakyat Indonesia seluruhnya kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah – daerah seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa.
Usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adat budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1995/1996 )
Kebudayaan daerah merupakan modal dasar kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang harus diperjuangkan dan ditingkatkan dari masa ke masa.
Menurut Koentjaraningrat, penggunaan kebudayaan oleh para pendukungnya diwujudkan dalam kehidupan nyata baik sebagai anggota masyarakat yang memungkinkan adanya wadah-wadah berupa pranata sosial. Pranata sosial merupakan suatu sistem kebudayaan yang berpusat pada aktivitas masyarakat.
Pangean adalah salah satu desa yang memiliki seni budaya yang unik dan sangat tersohor adalah Silat Pangean. Silat ini merupakan kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam masyarakat Pangean 

Khususnya dan masyarakat Kuantan umumnya, sehingga menjadi kebutuhan bagi mereka disamping kebutuhan yang lain. Silat sebagai wujud dari budaya masyarakat Pangean telah mampu menempati hati mereka karena dengan berbagai nilai yang ada didalamnya mampu mengikat dalam kesatuan yang utuh. 
Ragam budaya silat ini cukup khas karena disamping melibatkan rohani dan jasmani masih punya kemampuan untuk merangkul budaya lain kepada identitas dirinya. ( UU. Hamidy, 2003:129)
Silat merupakan olahraga bela diri yang sampai saat ini terus berkembang yang mana dalam silat Pangean sesuai dengan tradisi dan kebiasaan belajar silat dimulai ketika anak-anak memasuki usia 10-12 tahun, ketika mereka sudah baligh, berakal dan sejalan dengan mereka masuk mengaji ke surau untuk belajar mengaji dan shalat. Setiap anggota yang belajar Silat Pangean terlebih dahulu mengucapkan dua kalimah syahadat, sehingga mereka terikat dari kesatuan sebagai sesama pemeluk agama islam.

Dengan mempelajari Silat Pangean, akan tumbuh jiwa yang suci, tidak boleh melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama, harus taat menjalankan ibadah, tidak boleh bersifat sombong kepada siapapun. Silat Pangean juga menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat khususnya sesama anggota perguruan.



BAB II
ARTI KEBUDAYAAN SILAT
2.1 Arti Kebudayaan Silat
Kebudayaan merupakan suatu konsep dasar dalam mempelajari dan mengkaji berbagai bidang antropologi. Menurut E.B. Taylor kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Posman Simanjuntak, 2003:3)
  Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi ) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan menjadi pedoman tingkah lakunya ( Hasan Alwi, dkk, 2001:1065)

Silatc Pangean adalah salah satu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Pangean khususnya dan masyarakat Kuantan pada umumnya, sehingga menjadi kebutuhan bagi mereka disamping kebutuhan lain ( UU. Hamidy, 1986:98)
Menurut R. Soegiarto Poerbokoesoemo, Silat adalah: “ Pembelaan diri yang tidak banyak memakai gerakan-gerakan. Namun didalamnya ada unsur –unsur beladiri. Dalam silat terkandung ilmu kebathinan “(Murhananto, 1993:3)
2.2 Silat sebagai Tradisi
Menurut KRT. Soetardjonegoro, Silat adalah “ gerak serang beladiri yang erat hubungannya dengan rohani, sehingga dapat menghidup suburkan naluri, menggerakkan hati nurani manusia, langsung menyerahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa”(Murhananto, 1993:2)
Tradisi merupakan adat kebiasaan secara turun temurun(dari nenek moyang) yang masih dijalankan dlm masyarakat.

Silat Pangean termasuk olahraga bela diri yang dipelajari secara turun temurun menurut tata cara tertentu yg sudah menjadi tradisi. Dalam penggunaan Silat Pangean ini dpt dibagi dua yaitu :
1. Silat Permainan, yaitu silat yang digunakan dalam upacara –upacara yang umumnya kelihatan indah.
2. Silat sebenar silat, yaitu silat yang digunakan untuk benar-benar membela diri dalam menghadapi lawan. Silat ini dipelajari khusus dengan persyaratan tertentu yang dibagi dlm tingkatan yaitu :
1. Permainan ( langkah-langkah) Tingkatan pertama disebut langkah-langkah. Pada tingkatan ini seorang murid dilatih untuk mengetahui posisi lawan dalam empat arah : arah depan, belakang, samping kiri dan kanan. Diajarkan pula prinsip-prinsip perkelahian tegak, rendah, dan membuang atau mengelak.
2. Percaturan, tingkatan kedua disebut percaturan. Pada tingkatan ini diajarkan cara mengocok langkah untuk menipu musuh atau menumpas langkah musuh.

3. Pergelutan. Pada tingkatan ini diajarkan cara menangkap, mengunci, membanting, melepaskan pegangan tangan lawan dengan cara halus sampai tak tampak sebagai melepaskan diri.
4. Silat. Tingkat ke empat disebut silat, maksudnya adalah sebagai suatu alat bela diri, sesuatu yang dapat digunakan mempertahankan jiwa raga.( Mohd.Said, 2003: 86-87)


BAB III
SEJARAH/ASAL MUASAL SILAT PANGEAN

Sejalan dengan proses perkembangan Agama Islam di Sumatera sekitar abad ke- 17 masyarakat Pangean telah memeluk agama Islam. Pangean pada zaman itu telah memiliki adat istiadat dan hukumnya telah berlaku dalam kehidupan masyarakat. Zaman primitif telah mulai ditinggalkan dan syi’ar agama Islam telah tampak pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga minat untuk mengkaji dan mendalami pengetahuan agama Islam telah pula tumbuh (Mohd. Said, 2003:14)
1. Gindorajo seorang pemuda dari keluarga suku Pintu Gabang Mandahiling adalah suami dari seorang gadis suku Melayu yg bernama Gadi Ome bertempat tinggal di Koto Tinggi Pangean, diantara orang Koto Tinggi Pangean yang berminat untuk memperdalam pengetahuan agama Islam adalah Gindorajo. Untuk memenuhi keinginan tersebut ia bermaksud menuntut ilmu agama/mengaji di Sumatera Barat – Lintau (Minang

2. Pada suatu ketika Gindorajo menjelaskan kepada istrinya bahwa selama tiga tahun di Lintau hanya sekitar enam bulan saja belajar agama dan selebihnya untuk mempelajari silat dan memperdalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan persilatan. Gurunya bernama Datuk Batabuh. Penjelasan sang suami itu membuat istri sangat kecewa dan kesal dan terjadi pertengkaran mulut antara Gindorajo dan istrinya. Pada saat itulah keluar kata-kata dari mulut sang istri yaitu silat yang dipelajari dan didalami selama tiga tahun itu belum mempunyai arti apa-apa, kemudian ditambah lagi dengan kalimat “ arang habis besi binasa “.( Mohd. Said, 2003:21)
  Dengan adanya pertengkaran mulut tersebut menyebabkan persoalan semakin meruncing yang menimbulkan pertarungan pisik antara suami dan istri. Dalam pertarungan itu Gindorajo selalu kalah oleh istrinya, walaupun Gindorajo sempat menggunakan senjata berupa sokin (pisau bahasa Pangean ) sedangkan sang istri hanya memakai setangkai sendok nasi dari tempurung.

3. Pada petang Kamis malam Jum’at berikutnya diberikanlah penjelasan kepada suaminya bahwa ilmu dan keterampilan silat yang dimilikinya itu adalah dengan mendapat ilham dari yang “ ghaib “. Sejak itu pula Gindorajo belajar silat kepada istrinya dengan mendahului mandi Limau dan menjadi murid yang pertama. 
  Maka jelaslah bahwa Silat Pangean merupakan silat yang tumbuh dari ilham yang ghaib dan terus berkembang sampai saat ini bukan yang diperdapat dari ajaran Datuk Batabuh di Lintau dahulu ( Mohd. Said, 2003:24)
4. ( Dalam Aprianti , 2001:10) ada paling kurang dua versi cerita, versi yang pertama menurut orang Pangean itu sendiri bahwa silat itu berasal dari nenek moyang mereka. Pada versi lain disebutkan dijemput dari Lintau Buo Minangkabau. Guru besar dari Lintau Buo itu kemudian membuka laman silat di Koto Tuo Siberakun. Dari situlah muncul seorang murid yang bergelar Baromban.Dalam versi tokoh-tokoh silat di Rantau Kuantan adalah Sutan Nan Garang(pemegang warisan dari guru yang datang dari Lintau Buo), Baromban ( tokoh silat di Pangean), Jiusu dari Siberakun


BAB IV
POKOK ATURAN DAN PENGATURAN
SILAT PANGEAN

1. HORMAT maksudnya adalah anggaplah guru sebagai ibu basal sendiri, kalau sakit ditunggu, susah dibantu, turuti kata, perintah , serta suruhnya.
2. KADOMAT, maksudnya ikut bekerja dengan guru/ mengabdi kepada guru, jika dia sakit diobati, susah dibantu, mengerjakan sawah ladangnya, putus tali tangga ikatkan kembali, bocor atap rumahnya sisipkan kembali, koyak dinding rumahnya ditambal, tak kuat dia berjalan didukung.
3. MINAT, merupakan keinginan murid terhadap guru untuk belajar silat, kemudian minat guru terhadap murid untuk mengajarkan silat. Minat murid terhadap guru jauh diulangi ( dikunjungi atau diziarahi), dekat didukung dengan kasih, selalu ingat dalam hati , selalu didoakan yg baik-baik.
4.LAMO MASO/LAMA MASA, maksudnya untuk mendapatkan ilmu waktunya tidak terbatas, selama hayat dikandung badan, duduk berguru, berdiri bertanya.
5. PERMAINAN, adalah mengadu lentik jari, lemah pinggang, tidak memberi malu dan tidak mendapat malu, lembut jari bagai menari, lemah pinggang meliuk-liuk, berselentik jari dengan permainan yg indah dipandang mata.
6. PERGELUTAN, adalah bagaimana cara bergelut, pegang memegang dan langkah melangkah, coba mencoba, acah mengacah,jangan mengenai lawan, enak manis permainannya, enak bagi yang main, manis bagi yang menonton.
7. PERCATURAN, yang dimaksud dengan percaturan adalah hambat- menghambat , akal -mengakali, kepung –mengepung untuk mencari bagaimana tekhnik dan taktik yang harus dilakukan supaya mengenai lawan – sehingga kena satu-mau dua, kena dua –mau tiga, begitu seterusnya.
SILAT, silat dimaksud disini adalah bagaimana cara mengelak, menghindari serangan lawan, berpantang kena lahir dan bathin, berpantang kena di dunia dan akhirat (selamat dunia dan akhirat)
9. MENJEMPUTPATAH/BERSEDIA PATAH, tantangan masuk silat adalah patah. Menjemput patah terbagi dua; pertama , patah perjalanan, contoh bila murid hendak pergi ke suatu tempat, tiba-tiba disuruh guru ke tempat yg lain maka patahlah maksudnya. Kedua, patah kaki atau tangan dalam belajar tidak ada yang menyesal, kalau patah dalam bermain silat tidak bisa dituntut hukum.
10. MENJEMPUT BUTA, Tantangan yang lain masuk silat adalah buta, entah salah sambut, entah salah gayung, mata buta tak boleh disesali dan tak bisa dituntut hukum
11. MENJEMPUT SUSAH, maksudnya adalah susah badan karena bekerja, membuat gelanggang, membuat balai, entah apalah yang disuruh guru, hal ini harus dimaklumi oleh seorang murid. Dengan kata lain mengerjakan apa yg disuruh guru.
MENJEMPUT UTANG, maksudnya adalah kewajiban untuk mengisi adat dan lembago yaitu persyaratan untuk bisa menjadi murid. Syarat yg harus dipenuhi adalah : 
  a. Membayar beras segantang
  b. Menyerahkan kain sekabung
  c. Membawa ayam seekor
  d. Cincin sebentuk
  e. Limau sebuah
 13. SANGKO GURU, atau dianggap guru ada dua macam :
  a. Orang Pangean biar besar maupun kecil, lelaki atau perempuan dikatakan sangko guru; biarpun anak kecil – sebab air atap jatuhnya ke penuturan juga.
  b. Orang yang di rantau.
14. ANGKAT GURU, Tidak pandai diajar, tetapi pandai karena diangkat, pengangkatan itu terjadi apabila wafat Pendekar Bertuah, setelah mayat dimasukkan ke dalam keranda harus sudah dilantik penggantinya, barulah mayat dikuburkan.
GURU-GURU, adalah orang yang pandai, orang yang memiliki ilmu yg berlebih . Guru-guru merupakan orang yang pandai dalam bersilat dan sudah mempunyai laman dan murid. Mereka harus dihormati dan jangan dianggap remeh.
16. GURU SEBENAR GURU, merupakan orang tempat menuntut/tempat belajarsilat atau orang yang mengajarkan silat pada muridnya.

BEBERAPA ISTILAH PENTING
1. Guru Silat, Adalah seorang yang memiliki ilmu tinggi dan pandai bersilat serta sering disebut Pendekar, untuk menjadi guru silat Pangean telah berumur sekitar 55 tahun keatas.
2. Guru Laman Silat, orang yang ahli dalam bersilat dan dianggap pantas untuk melatih silat pada suatu laman silat.
3. Urang Tuo Laman, Urang tuo laman ini merupakan orang yang dituakan dalam suatu laman silat, kedudukannya serta ilmunya diatas orang barompek laman, tetapi dibawah dari pada guru laman, usia urang tuo laman berkisar 50 tahun keatas, tugasnya adalah memperhatikan dan memimpin anak silat bila ada suatu masalah yang terjadi pada suatu laman.
4. Urang Barompek, ditunjuk oleh urang tuo laman melalui mufakat, Urang barompek laman berjumlah empat orang berusia sekitar 40 tahun keatas. Tugasnya adalah menerima murid yg akan masuk menjadi murid silat, selanjutnya diberitahu kepada guru laman, dan membantu guru laman mengajar silat pada laman yg ditunjuk

BAB V
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM BUDAYA SILAT

1. NILAI KEAGAMAAN 

Nilai keagamaan dalam silat Pangean tercermin diantaranya ketika seseorang akan masuk silat Pangean, dimana seseorang yang akan masuk silat terlebih dahulu mandi balimau agar 
Dirinya bersih dari kotoran yang melekat pada dirinya. Nilai keagamaan terbentuk pula dalam adab dan cara bersilat, seseorang yang akan bersilat terlebih dahulu duduk bersimpuh menghadap kiblat-berdoa kepada Allah SWT memohon perlindungan , keselamatan, kekuatan agar terhindar dari segala marabahaya. Belajar Silat Pangean sekaligus mempelajari agama islam yang dimulai semenjak anak-anak, sesuai dengan tradisi belajar silat dilakukan sejalan dengan mengaji di surau.
Nilai keagamaan terlihat pula pada tradisi ziarah ke Pondam (makam) guru-guru silat yang ada di Pangean.

Ziarah ke Pondam guru-guru silat merupakan suatu keharusan bagi orang yang belajar silat Pangean.
Ziarah yang dilakukan oleh pengikut maupun guru-guru silat Pangean adalah sbb:
1. Ziarah guru-guru silat, ziarah ini dilakukan pada 1 Syawal bertempat di Pondam guru-guru silat Pangean di Ujung Taye Koto Pangean
2. Ziarah Amanat, ziarah ini bertempat di Koto Tuo Siberakun pondam Tan Nan Garang bapak Datuk Untuik. Ziarah ini terjadi adanya amanah dari Datuk Untuik kepada murid-muridnya “ Kalau aku nantinya telah meninggal dunia, sebelum kalian ziarah ke makam ku, kalian ziarahi makam bapakku di Koto Tuo Siberakun “. Amanat inilah yang menyebabkan adanya ziarah amanat itu.
3. Ziarah Mufakat, ziarah mufakat merupakan ziarah hasil kesepakatan para guru-guru silat dan penghulu adat Pangean
Adapun ziarah mufakat sbb:
 Ziarah ke makam Datuk Untuik di Pauh Angik
 Ziarah ke makam Pendekar Malin I (bergelar Datuk Baromban) di Cimpur Koto Pangean.
 Ziarah ke makam Mali Putih di Pulau Deras
 Ziarah ke makam Pak Ngacak
 Ziarah ke makam Menti Kajan
 Ziarah ke makam Penghulu Sati di Pembatang Pangean
4. Ziarah Ilmu, Ziarah ilmu ada dua macam yaitu ilmu bathin di Ujung Taye dan ilmu zahir di Pulau Ronge. Ziarah ilmu dapat diikuti dengan syarat : anggota silat telah sampai pada tingkat limau godang, membawa kemenyan, dan telah mendapat izin dari guru.

Adapun ziarah mufakat sbb:
 Ziarah ke makam Datuk Untuik di Pauh Angik
 Ziarah ke makam Pendekar Malin I (bergelar Datuk Baromban) di Cimpur Koto Pangean.
 Ziarah ke makam Mali Putih di Pulau Deras
 Ziarah ke makam Pak Ngacak
 Ziarah ke makam Menti Kajan
 Ziarah ke makam Penghulu Sati di Pembatang Pangean
4. Ziarah Ilmu, Ziarah ilmu ada dua macam yaitu ilmu bathin di Ujung Taye dan ilmu zahir di Pulau Ronge. Ziarah ilmu dapat diikuti dengan syarat : anggota silat telah sampai pada tingkat limau godang, membawa kemenyan, dan telah mendapat izin dari guru.

Nilai Budaya, Silat tradisional ini dipertunjukan pada malam dibulan Ramadhan selesai shalat tarawih, pada Hari Raya Idhul Fitri dan Idul Adha. Hal ini telah berlansung sejak dari dahulu kala yang terus diwarisi oleh generasi sampai saat sekarang ini. Permainan silat pada hari Raya dibuka dan ditutup oleh Penghulu Adat di Pangean.


CALEMPONG BA BUNYI DITINGKAH GONDANG
OGUANG LALU , SURAK BAJADI
BA PACU MAROBUIK KAMONANGAN

CALEMPONG BA BUNYI DITINGKAH GONDANG
OGUANG LALU, SOMBAH DIPINTAK
BA SILEK UNTUAK PERSAUDARAAN.


  Wassalam
  Mr. Hams





3 komentar:

Regie blog's mengatakan...

boleh lah minta ajarkan silatnya yah....
maracik limau wak lai...

bisnisway mengatakan...

nice blog...salam merdeka!

deri yanto mengatakan...

Assalamualaikum datuk.
Nama saya deri, saya berasal Dari Jambi.
Di Jambi silek pangean disebut juga dengan nama silat kemenyan. InsyaAllah kalau Ada waktu saya akan datang kesana untuk bersilturahmi dengan saudara-saudara disana.

Posting Komentar